Politik Sarungan

Posted on
loading...

Oleh: M SUBHAN SD

Bukan pertama kali Presiden Joko Widodo mengenakan sarung. Namun, berjas-sarung-peci-sandal di acara resmi, barangkali benar-benar membuat Presiden Jokowi tampil beda.

Bersarungan sejak dari Istana Bogor sampai di Pekalongan menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama Habib M Lutfi bin Yahya dan mengunjungi Pesantren At-Taufiqy, Minggu (8/1).

Foto Jokowi diberi hormat komandan pesawat kepresidenan di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma Jakarta pun mencuri perhatian.

Belasan tahun lalu, Presiden Gus Dur (1999-2001) memang terus sarungan. Itusih lumrah saja. Maklum, Gus Dur adalah tokoh kaum sarungan, sebutan yang lain warga Nahdlatul Ulama (nahdliyin).

Sebaliknya Jokowi, adalah kader PDI-P yg nasionalis. Busana Jokowi sebetulnya biasa saja, sesuai konteksnya.

Maksudnya sarungan pas ketika mengunjungi komunitas pesantren. Kemiripan mampu membuat komunikasi lebih cair.

Akan tetapi, gaya busana Jokowi bersarungan itu sebetulnya mampu dibaca sebagai “simbol” dalam merespons situasi sosial- politik akhir-akhir ini, seperti isu intoleransi, ancaman kebinekaan, radikalisme, dan dugaan makar.

Simbol itu adalah identitas “keindonesiaan” atau “kepribadian nasional”. Gaya berpakaian “jas-sarung-peci” menjadi identitas Indonesia.

Indonesia ibarat kuali peleburan (melting pot) kebudayaan. Terjadi difusi, akulturasi, dan asimilasi. Sarung dibawa dari Yaman. Jas tentu produk budaya Barat (Eropa).

Peci, meski terpengaruh dari Turki, adalah asli Indonesia (Melayu). Jadilah sebuah identitas baru. Sebab, di Barat jas tak dikenakan bersama peci.

Di Yaman, sarung berfungsi selimut tidur. Hanya di Indonesia, peci menjadi simbol perlawanan.

Di Surabaya, pada tahun 1921, peserta meeting Jong Java mencemooh peci sebagai ciri rakyat jelata. Meskipun awalnya bimbang, Bung Karno akhirnya menghadiri meeting mengenakan peci. Peserta pertemuan pun terperangah.

“Demi tercapainya cita- cita kita, para pemimpin politik tak boleh lupa bahwa mereka berasal dari rakyat, bukan berada di atas rakyat,” ujar Bung Karno memecah kesunyian, seraya menambahkan, “Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia.” (Cindy Adams, 1965, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia).

Bagi Bung Karno, peci adalah simbol kepribadian sekaligus perlawanan terhadap kecongkakan. Hampir sepanjang hidupnya, Bung Karno terus bangga berpeci di mana pun.

Peci pun amat politis, bentuk perlawanan terhadap imperialisme. Para pelopor bangsa pada awal abad ke-20 rata-rata mengenakan peci bagi menumbuhkan heroisme dan nasionalisme.

Pendiri bangsa, seperti HOS Cokroaminoto atau Tjipto Mangunkusumo, pun melepaskan belangkonnya.

Bisa jadi karena simbol perlawanan, sejumlah tokoh dunia juga bangga dengan pakaian kebesarannya.

Pejuang Palestina Yasser Arafat (1929-2004) terus berseragam militer lengkap dengan kafiyeh-nya.

Mantan PM India Jawaharlal Nehru (1889-1964) terus tampil dengan achkan, pakaian khas India.

Mantan PM Myanmar U NU (1907-1995) terus berpakaian khas longyi, mirip sarung Indonesia. Pendiri Tiongkok, Mao Tse Tung (1893-1976), terus berbaju safari khas model zhongshan.

Jokowi seperti mengingatkan kembali tentang simbol kepribadian nasional, di tengah ancaman terhadap kebinekaan.

“Kalau ada yg mau macam-macam, Bapak Presiden, Pak Wapres, panggil saja kita,” tegas Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri di arena perayaan HUT ke-44 PDI-P, Selasa (10/1).

Sumber: http://nasional.kompas.com

loading...
Loading...