Tren Pengenaan UU ITE Terkait SARA Diprediksi Akan Meningkat

Posted on
loading...

JAKARTA, Akulagi.com – Laporan kepada polisi tentang penyebaran kebencian terkait suku, agama, dan ras melalui dunia maya diperkirakan mulai bertambah banyak.

Direktur Eksekutif Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) Supriyadi Widodo Eddyono mengatakan, laporan itu terkait Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Jenis masalah tersebut lebih banyak ditangani Polri dibandingkan perkara terkait UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis karena meningkatnya aktivitas di dunia maya.

“Maka tren penggunaan Pasal 28 ayat (2) ITE di tahun-tahun mendatang pasti lebih meningkat. Ini karena elemennya lebih luas,” ujar Supriyadi melalui siaran pers, Minggu (8/1/2017).

Tidak cuma itu, ancaman pidana dalam UU ITE juga lebih berat terhadap pelakunya. Salah sesuatu contoh penggunaan pasal tersebut adalah masalah Buni Yani terkait status di Facebook pribadinya.

Buni dianggap menyebarkan kebencian dengan mengunggah video Gubernur DKI Jakarta (nonaktif) Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yg dianggap menistakan agama.

Selain itu, masalah yg masih hangat yakni penerbitan buku “Jokowi Undercover” yg ditulis Bambang Tri Mulyono. Isi buku tersebut dianggap kebohongan karena tak berbasis data yg jelas dan akurat.

Dalam pemantauan ICJR, kata Supriyanto, pasal dalam UU ITE ini sudah digunakan dalam berbagai perkara penyebar kebencian di Indonesia yg berujung di meja hijau.

Hal itu berbeda dari pasal dalam UU Diskriminasi Rasial yg belum pernah digunakan sama sekali dalam pengadilan.

“Beberapa perkara yg memakai pasal-pasal dalam UU ITE umumnya terfokus kepada penyebaran kebencian agama dan belum pernah digunakan terkait kasus-kasus penyebar kebencian berbasis ras dan etnis,” kata Supriyadi.

Supriyanto mencontohkan masalah Sandy Hartono yg diadili Pengadilan Negeri Pontianak tahun 2011.

Sandy terbukti membuat akun facebook palsu dan memasukkan gambar-gambar maupun kalimat yg berisikan penghinaan terhadap agama Islam.

Kasus I Wayan Hery Christian yg divonis penjara tujuh bulan karena membuat status yg melecehkan di media sosial bahwa dia merasa terganggu suara takbir menyambut Idul Adha.

ICJR mendorong agar Pasal 28 ayat (2) jo Pasal 45 UU ITE digunakan secara lebih cermat dalam situasi kekinian.

Penggunaan pasal tersebut harus tepat dan benar-benar sesuai dengan perbuatan yg dikerjakan pelaku.

“Sehingga mampu secara efektif memberikan rasa keadilan buat publik namun di sisi yang lain juga tak membunuh kebebasan berekspresi warganegara,” kata Supriyadi.

Sumber: http://nasional.kompas.com

loading...
Loading...