Membantah “Hoax”, Menyelamatkan Bangsa

Posted on
loading...

Informasi palsu atau hoax menjadi salah materi yg belakangan ini banyak dibicarakan. Terkait hal itu, komunitas Masyarakat Indonesia Anti “Hoax”, Desember lalu, menampilkan sisi yang lain di balik pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2016 yg dimenangi Donald Trump.

Video berdurasi sesuatu menit yg menyarikan berbagai keterangan dari dua media arus penting menyingkap bagaimana bisnis berita hoax bisa menghasilkan keuntungan yg amat besar. Dalam film itu ditampilkan sosok Victor, remaja yang berasal Makedonia yg menjadi editor situs berita hoax. Ia membuat hoax yg menguntungkan Donald Trump. “Saya lakukan ini, demi uang dan hiburan,” kata Victor.

Di negara yang berasal Victor, merupakan Makedonia yg ada di benua Eropa, terdapat sekitar 140 situs berita palsu soal Trump. Jejaring berita hoax itu dahulu disebarkan di media sosial dan dibaca jutaan orang di Amerika.

Di bagian akhir sesi itu, ada pertanyaan menggelitik, “Bagaimana dengan Indonesia?”

Sineas Nia Dinata pun tidak habis pikir. Mengapa hoax juga gampang menyebar di Indonesia?

Sistem pulsa

Belajar dari anaknya yg sekolah di Amerika Serikat, Nia mendapat pemahaman bahwa penyebaran hoax di Indonesia begitu cepat karena sistem pembelian pulsa telepon seluler buat koneksi data umumnya memakai sistem prabayar. Hal ini membuat sebagian orang Indonesia enggan memverifikasi ulang dengan membuka link situs keterangan yg diterima karena takut pulsanya habis.

Para pelanggan layanan seluler pascabayar relatif masih mau mengecek silang kebenaran keterangan yg diterima sepanjang dari media yg kredibel.

“Ditambah lagi, ada semacam kebanggaan. Kita seakan keren, kalau mampu menjadi orang pertama yg menyebarkan keterangan di grup media sosial. Jadi, seakan kalian dihadapkan pilihan. Untuk menjadi keren, apakah kami melakukan cek keterangan dulu? Atau segera menyebarkan informasinya begitu saja?” tanya Nia.

Hidup pada zaman keterangan serba cepat, manusia memang seperti hidup di dalam gelembung. Nia mencontohkan, hampir sebulan belakangan dia ingin mengetahui tagar “kebencian” yg terhadap kelompok tertentu di Indonesia. Nia juga pernah mencari tahu tentang “kawin muda” dengan berselancar di internet.

Ternyata, kata Nia, dunia maya segera merekam pencarian itu sehingga keesokan harinya setiap kali dia memakai internet, selalu bermunculan berbagai keterangan tentang kebencian ataupun kawin muda.

Aktivis sosial, Anita Wahid, mengingatkan, kemajuan teknologi turut mengikis rasa saling menghormati. Sekitar 30-40 tahun lalu, para orang tua tak memamerkan tentang kebenaran dirinya sendiri. Mereka hidup sebagai anggota masyarakat yg menginginkan hidup rukun, guyub, damai, dan saling menghormati, serta peduli bagi kemajuan bersama.

“Lima tahun terakhir, bahkan dua bulan terakhir, terjadi pergeseran dalam tata cara hidup berbangsa kita. Sekarang ini, kalian mudah banget berada dalam dikotomi kubu aku dan dia. Kita mau ke mana membawa bangsa ini?” kata Anita.

Perlawanan

Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho mengemukakan, dikotomi yg berujung pada perilaku penyebaran hoax tidak terelakkan. Perlawanan terhadap hoax tidak sebanding dengan penyebarannya. Apalagi, para penebar hoax bebas berkeliaran.

“Bisa sambil ngopi, copy-paste informasi, tidak mengurangi atau menguranginya (untuk diunggah ke internet), tanpa berpikir panjang dampaknya,” kata Septiaji.

Pertanyaannya, kata Septiaji, apakah cukup hoax dari sahabat membuat kalian menetapkan pertemanan (unfollow) di media sosial. Mengapa tak cukup dengan melakukan unfollow?

“Soalnya, postingan hoax tetap mampu menyebar. Kamu mampu menjadi saber (sapu bersih) hoax bagi menolong orang yang lain agar tak termakan berita palsu. Pertama, laporkan saja hoax melalui fitur report post’ supaya postingannya langsung dihapus pengelola media sosial itu,” kata Septiaji.

Langkah selanjutnya adalah menjelaskan di akun media sosialnya bahwa dia sudah menyebarkan hoax. Lebih baik lagi, unggah keterangan yg terverifikasi bagi membantahnya.

Teknologi informatika memang memudahkan. Namun, telah sepatutnya para penggunanya mencegah penyebaran hoax demi menyelamatkan bangsa (STEFANUS OSA)

 

Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 3 Januari 2017, di halaman 2 dengan judul “Membantah “Hoax”, Menyelamatkan Bangsa”.

Informasi palsu atau hoax menjadi salah materi yg belakangan ini banyak dibicarakan. Terkait hal itu, komunitas Masyarakat Indonesia Anti “Hoax”, Desember lalu, menampilkan sisi yang lain di balik pemilihan presiden Amerika Serikat pada 2016 yg dimenangi Donald Trump.
Video berdurasi sesuatu menit yg menyarikan berbagai keterangan dari dua media arus penting menyingkap bagaimana bisnis berita hoax bisa menghasilkan keuntungan yg amat besar. Dalam film itu ditampilkan sosok Victor, remaja yang berasal Makedonia yg menjadi editor situs berita hoax. Ia membuat hoax yg menguntungkan Donald Trump. “Saya lakukan ini, demi uang dan hiburan,” kata Victor.
Di negara yang berasal Victor, merupakan Makedonia yg ada di benua Eropa, terdapat sekitar 140 situs berita palsu soal Trump. Jejaring berita hoax itu dulu disebarkan di media sosial dan dibaca jutaan orang di Amerika.
Di bagian akhir sesi itu, ada pertanyaan menggelitik, “Bagaimana dengan Indonesia?”
Sineas Nia Dinata pun tidak habis pikir. Mengapa hoax juga gampang menyebar di Indonesia?
Sistem pulsa
Belajar dari anaknya yg sekolah di Amerika Serikat, Nia mendapat pemahaman bahwa penyebaran hoax di Indonesia begitu cepat karena sistem pembelian pulsa telepon seluler buat koneksi data umumnya memakai sistem prabayar. Hal ini membuat sebagian orang Indonesia enggan memverifikasi ulang dengan membuka link situs keterangan yg diterima karena takut pulsanya habis.
Para pelanggan layanan seluler pascabayar relatif masih mau mengecek silang kebenaran keterangan yg diterima sepanjang dari media yg kredibel.
“Ditambah lagi, ada semacam kebanggaan. Kita seakan keren, kalau mampu menjadi orang pertama yg menyebarkan keterangan di grup media sosial. Jadi, seakan kalian dihadapkan pilihan. Untuk menjadi keren, apakah kalian melakukan cek keterangan dulu? Atau segera menyebarkan informasinya begitu saja?” tanya Nia.
Hidup pada zaman keterangan serba cepat, manusia memang seperti hidup di dalam gelembung. Nia mencontohkan, hampir sebulan belakangan dia ingin mengetahui tagar “kebencian” yg terhadap kelompok tertentu di Indonesia. Nia juga pernah mencari tahu tentang “kawin muda” dengan berselancar di internet.
Ternyata, kata Nia, dunia maya segera merekam pencarian itu sehingga keesokan harinya setiap kali dia memakai internet, selalu bermunculan berbagai keterangan tentang kebencian ataupun kawin muda.
Aktivis sosial, Anita Wahid, mengingatkan, kemajuan teknologi turut mengikis rasa saling menghormati. Sekitar 30-40 tahun lalu, para orang tua tak memperlihatkan tentang kebenaran dirinya sendiri. Mereka hidup sebagai anggota masyarakat yg menginginkan hidup rukun, guyub, damai, dan saling menghormati, serta peduli buat kemajuan bersama.
“Lima tahun terakhir, bahkan dua bulan terakhir, terjadi pergeseran dalam tata cara hidup berbangsa kita. Sekarang ini, kalian mudah banget berada dalam dikotomi kubu aku dan dia. Kita mau ke mana membawa bangsa ini?” kata Anita.
Perlawanan
Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Septiaji Eko Nugroho mengemukakan, dikotomi yg berujung pada perilaku penyebaran hoax tidak terelakkan. Perlawanan terhadap hoax tidak sebanding dengan penyebarannya. Apalagi, para penebar hoax bebas berkeliaran.
“Bisa sambil ngopi, copy-paste informasi, tidak mengurangi atau menguranginya (untuk diunggah ke internet), tanpa berpikir panjang dampaknya,” kata Septiaji.
Pertanyaannya, kata Septiaji, apakah cukup hoax dari sahabat membuat kalian menetapkan pertemanan (unfollow) di media sosial. Mengapa tak cukup dengan melakukan unfollow?
“Soalnya, postingan hoax tetap dapat menyebar. Kamu mampu menjadi saber (sapu bersih) hoax bagi menolong orang yang lain agar tak termakan berita palsu. Pertama, laporkan saja hoax melalui fitur report post’ supaya postingannya langsung dihapus pengelola media sosial itu,” kata Septiaji.
Langkah selanjutnya adalah menjelaskan di akun media sosialnya bahwa dia sudah menyebarkan hoax. Lebih baik lagi, unggah keterangan yg terverifikasi bagi membantahnya.
Teknologi informatika memang memudahkan. Namun, telah sepatutnya para penggunanya mencegah penyebaran hoax demi menyelamatkan bangsa (STEFANUS OSA)
Versi cetak artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 3 Januari 2017, di halaman 2 dengan judul “Membantah “Hoax”, Menyelamatkan Bangsa”.

Sumber: http://nasional.kompas.com
Terima kasih anda Telah Membaca Berita Tentang Membantah “Hoax”, Menyelamatkan Bangsa Silahkan Share Berita Ini Jika Memberi Manfaaat

Kata Kunci Banyak Di Cari

riwayat hidup elsa pitaloka,facebook undian com,http://akulagi com/Berita-riwayat-hidup-elsa-pitaloka,istri ngentot di dapur,
loading...
Loading...