Juli: Mudik ‘Horor’ Di Pantura Yang Memakan Korban

Posted on
loading...

Jakarta, Macet berjam-jam di ketika mudik lumrah ditemukan menjelang Lebaran. Namun mudik di 2016 dibayangi oleh jatuhnya korban meninggal.

Insiden ini terjadi di jalur Pantura, merupakan di sekitaran Brebes, Jawa Tengah. Tercatat 12 orang meninggal dunia, kebanyakan diduga karena kelelahan atau telah memiliki penyakit bawaan dan ketika terjebak macet, hal ini kemudian memicu kondisinya memburuk.

Selain kelelahan dan penyakit bawaan yg memburuk akibat kecapekan, ada juga korban yg meninggal dunia akibat serangan jantung dan keracunan karbon dioksida setelah mobil yg ditumpangi terjebak macet lebih dari enam jam.

Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) dari RS Persahabatan Rawamangun menyampaikan ketika terjebak macet berjam-jam kala mudik, kekurangan oksigen sangat rentan terjadi akibat sirkulasi udara yg buruk dalam kabin mobil yg menyalakan AC (Air Conditioner). Selain itu, polusi dari ratusan kendaraan yg berkumpul di sesuatu titik juga sangat mengganggu kesehatan paru-paru dan sistem pernapasan.

“Pada kelompok risiko tinggi seperti bayi, anak-anak ataupun pasien penyakit jantung dan paru, konsentrasi oksigen yg menurun ditambah meningkatnya polusi udara memang dapat berakibat fatal,” tutur dr Agus seperti diberitakan detikHealth sebelumnya.

Sebab di ketika konsentrasi oksigen perlahan-lahan turun dan konsentrasi karbon dioksidanya naik, hal ini memungkinkan terjadinya hipoksia, ditandai dengan pusing, mual, sesak napas dan kehilangan kesadaran hingga meninggal.

Pada pasien jantung dan penyakit paru yg fungsi peredaran oksigennya telah terganggu, keadaan ini juga mampu berakibat fatal. Apalagi seandainya dalam keadaan terjebak macet di mana fasilitas kesehatan sulit dijangkau.

“Secara garis besar berbahaya karena masyarakat mungkin tak paham. Pusing dan mual dikira cuma kelelahan atau mabuk darat. Padahal itu juga gejala awal kekurangan oksigen dan harus ditindaklanjuti ke posko kesehatan,” urainya.

Baca juga: Saran Dokter Agar ‘Horor Mudik’ yg Tewaskan 12 Orang Tidak Terulang

Lantas haruskah jendela ditutup atau dibuka ketika terjebak kemacetan? Mengutip rilis dari RSUP Persahabatan, menutup jendela mampu membuat penumpang kehabisan oksigen. Di sisi yang lain membuka jendela mulai menyebabkan emisi gas buang kendaraan masuk ke dalam kabin. Padahal emisi gas buang kendaraan bermotor mengandung karbon monoksida (C0) yg sangat beracun.

Karena kebanyakan mesin kendaraan tetap menyala ketika keadaan jalan macet, lebih disarankan bagi menutup jendela mobil. “Tutup jendela dan pintu kendaraan mobil bagi mengurangi masuknya asap polusi dan partikel ke dalam kendaraan. Nyalakan AC dengan mode recirculate, jangan mode outdoor circulate yg mengambil udara dari luar,” papar artikel.

Namun bagi mencegah berkurangnya oksigen, di waktu tertentu, jendela boleh dibuka agar terjadi pertukaran udara. “Bila udara di luar tak panas, matikan juga mesin mobil buat mengurangi polusi udara di sekitar kemacetan,” saran rilis tersebut.

Kemacetan di tol Brexit ketika lebaran 2016/Foto: detikcomFoto: Gagah Wijoseno
Kemacetan di tol Brexit ketika lebaran 2016/Foto: detikcom

Yang tidak kalah penting, ketika terjebak macet, hindari kegiatan yang lain yg dapat tidak mengurangi polusi udara, di antaranya merokok.

Menanggapi hal ini, praktisi kesehatan dari RS Cipto Mangunkusumo, dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH juga mengingatkan pentingnya mengonsumsi cairan ketika mudik demi mencegah dehidrasi. Persoalannya, jumlah rest area, termasuk toiletnya, tak sebanding dengan jumlah pemudik. Akibatnya pemudik memilih tak minum.

Padahal buat pengidap penyakit kronis, dehidrasi dapat berdampak serius. Pada pengidap hipertensi misalnya, dehidrasi mulai membuat jantung bekerja lebih keras. Kadar gula pada pengidap diabetes juga menjadi lebih sulit dikontrol dalam keadaan tubuh kekurangan cairan.

“Tetap pertahankan minum 2 liter dalam 24 jam. Jika di dalam perjalanan kami banyak keringat, jumlah air minum harus ditingkatkan,” saran Dr Ari

Kemacetan parah meningkatkan risiko dehidrasi terutama pada orang lanjut usia yg kepekaan terhadap rasa hausnya lebih rendah. Apalagi, berada dalam mobil dengan AC (Air Conditioner) menyala membuat keringat tak keluar. Risiko dehidrasi jadi semakin besar karena rasa haus tak muncul.

Dehidrasi membuat kadar elektrolit tubuh menurun. Bagi pemudik yg memang telah milik riwayat diabetes mellitus dan hipertensi sebelumnya, kekurangan elektrolit mampu memperburuk keadaan kesehatan. Belum lagi ditambah dengan level stres yg cenderung meningkat.

Selain butuh asupan cairan, tubuh juga membutuhkan asupan elektrolit dan komponen lainnya. Buah-buahan seperti jeruk, apel, atau buah peer baik dikonsumsi selama perjalanan karena mampu menjadi sumber kalori, air, vitamin, sekaligus serat dan mineral. Disarankan juga bagi tetap minum setiap 2 jam, sekalipun tak merasa haus.

Baca juga: Membandingkan Dampak Kesehatan Arus Mudik dari Tahun ke Tahun

(lll/vit)
Sumber: http://health.detik.com
Terima kasih anda Telah Membaca Berita Tentang Juli: Mudik ‘Horor’ di Pantura yang Memakan Korban Silahkan Share Berita Ini Jika Memberi Manfaaat

Kata Kunci Banyak Di Cari

bokep polusi,
loading...
Loading...