‘Haruskah Saya Pergi Setelah Suami Kembali Pada Istri Pertamanya?’

Posted on
loading...

Jakarta, Dear Mbak Wulan,

Saya seorang istri siri dan telah mempuyai sesuatu orang putri usia 6 bulan. Awalnya aku menikah secara siri karena aku hamil terlebih dulu dan suami aku telah mempunyai istri. Namun suami aku berjanji mulai menceraikan istrinya karena si istri mempunyai sifat yg kurang baik (tidak dapat merawat suami, terus marah-marah kalau suami telat menjemput, tak mengurus anak, kalau bicara kasar, suka membentak suami di depan mertua).

Bahkan sampai suami aku kabur ke kota yang lain bagi menghindar dari si istri karena mertua aku meminta suami bagi mempertahankan pernikahnya karena mertua malu apabila keluarga besar tahu suami aku berselingkuh dengan saya. Saat di kota yang lain suami cuma memberitahu aku mengenai keberadaannya di mana.

Namun secara tiba-tiba suami aku hilang kontak, dan istrinya menghubungi aku dan mengatakan bahwa mereka telah tinggal bersama di kota itu. Saya ingin menghampiri suami, namun aku tak mau tidak mengurangi sakit hati aku dengan melihat mereka berdua. Sampai detik ini suami tak menghubungi saya. Saat aku menanyakan kepada mertua, ya mereka tak membela saya. Mereka cuma bilang kalau ini telah rencana Allah.

Saya berniat bagi pindah kota dan menjauhkan diri dari seluruh persoalan ini, membawa putri aku dan menghilang bagi selamanya dari mereka. Apakah pilihan aku benar? Atau aku harus meminta kepastian dari suami?

A (Wanita, 27 tahun)

Jawaban

Dear Mbak A,

Memilih buat mencintai dan menikah dengan orang yg telah beristri memang memiliki dua konsekuensi yg menyakitkan buat yg menjalani. Salah sesuatu konsekuensi yg ketika ini Anda jalani adalah saat suami kembali kepada istri pertamanya. Konsekuensi logis yg tak gampang buat diterima, tapi satu yg sebenarnya telah mampu diantisipasi mulai terjadi.

Posisi Anda sebagai pihak ketiga dalam hubungan perkawinan yg bermasalah memang tak mulai menguntungkan buat Anda bagi mendapatkan dukungan dari keluarga suami. Kehadiran Anda dapat dianggap sebagai persoalan baru yg memperburuk persoalan yg ada, atau bahkan dapat dianggap sebagai penyebab kerusakan rumah tangga mereka.

Jika suami memang memiliki persoalan perkawinan dan ingin bercerai dengan istrinya, biarkan ia berproses sendiri dan menyelesaikan permasalahannya. Jika ia tiba-tiba tak menghubungi Anda, ada kemungkinan ia mulai memperbaiki hubungan dengan istrinya. Atau, dapat jadi ia tetap memilih tinggal bersama istrinya tanpa memperbaiki apapun dan menerima keadaannya. Apapun itu, itu adalah pilihan suami Anda yg tak mampu Anda kontrol.

Saya mampu memahami seandainya dalam situasi seperti ini Anda ingin mendapatkan kepastian atau menghilang. Sayangnya, seringkali dalam situasi seperti ini kepastian tak gampang buat didapatkan atau bahkan tak mulai didapatkan. Terkadang jalan terbaik yg mampu dikerjakan adalah menerima bahwa dengan keadaan ketika ini, anggap saja suami tak mulai kembali, dan memfokuskan diri pada apa yg dapat Anda lakukan buat diri Anda sendiri dan anak Anda ke depannya.

Menghilang tak membuat hati yg sakit menjadi pulih, tak terus membuat suami mulai mencari. Jika Anda memang ingin menjauhkan diri buat mencari ketenangan sambil memulihkan luka Anda, tentu saja itu bisa Anda lakukan. Namun, lakukan dengan alasan itu adalah hal terbaik yg dapat Anda lakukan ketika ini buat kebahagiaan Anda dan anak Anda, bukan karena buat ‘kabur’ dari persoalan yg ada. Perbedaan alasan dapat membuat perjalanan hidup Anda ke depannya menjadi berbeda.

Pastikan Anda juga menjauh dengan perencanaan. Di mana Anda mulai tinggal? Bagaimana Anda mulai mencari nafkah? Siapa yg mulai mengurus putri Anda sementara seandainya Anda harus bekerja?

Sebaiknya tetap buka kesempatan bagi ayahnya buat mengenal putrinya, seandainya suatu hari ia mencari Anda. Mungkin bukan buat kembali kepada Anda sebagai suami, tapi sebagai ayah bagi anaknya. Bagaimanapun, setiap anak juga tetap membutuhkan figur ayah dalam kehidupannya. Namun, Anda tak perlu khawatir. Figur ayah tak harus terus harus dari ayah kandung. Figur ini mampu ia dapatkan dari siapa saja, seperti kakek, om, pakde, saudara atau sahabat. Jadikan adanya akses putri Anda terhadap orang-orang yg mampu menghadirkan figur ini juga dalam pemilihan tempat Anda nantinya.

Ke depannya tak mulai mudah. Jadikan ini sebuah perjalanan hidup yg mulai mendewasakan Anda dalam membuat pilihan-pilihan ke depannya. Selamat menjalani peran orang tua tunggal untuk putri Anda.

Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi
Psikolog Perkawinan dan Keluarga di Klinik Rumah Hati
Jl. Muhasyim VII no. 41, Cilandak, Jakarta Selatan
Twitter: @wulanayur dan @twitpranikah
http://pranikah.org/(hrn/ajg)
Sumber: http://health.detik.com
Terima kasih anda Telah Membaca Berita Tentang ‘Haruskah Saya Pergi Setelah Suami Kembali pada Istri Pertamanya?’ Silahkan Share Berita Ini Jika Memberi Manfaaat

Kata Kunci Banyak Di Cari

cara mrmbuat vidgram aku sayang,baju hamil 9bulan,cra bikin musically aku lelah,membuat rumah adat karo dari kertas,tere biduan ibukota,
Loading...
loading...