Dua Jalur Pengembangan Obat Herba Di Indonesia

Posted on
loading...

Jakarta, Indonesia yaitu negara nomor 2 dengan kekayaan hayati terbesar di dunia. Sekitar 15 persen dari total tanaman obat di semua dunia mampu ditemukan di Indonesia.

dr Hardhi Pranata, SpS, MARS, Ketua Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) menyampaikan Indonesia memiliki potensi besar bagi mengembangkan industri farmasi berbasis herba. Dikatakannya ada beberapa jalur yg mampu dikembangkan, yakni jalur jamu dan jalur fitofarmaka.

“Jamu tak boleh dihilangkan karena memiliki manfaat yg holistik. Di sisi lain, pengembangan obat yg memakai ekstrak tanaman atau hewan yg berkhasiat obat juga harus ditingkatkan, karena manfaatnya tak kalah dari obat kimia,” tutur dr Hardhi, usai acara dialog Percepatan Pengembangan Obat Herbal Modern Asli Indonesia melalui JKN, di Hotel Sultan, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Baca juga: Ini Alasan Kurangnya Jumlah Obat Herba Terstandar dan Fitofarmaka di Indonesia

Dijelaskan dr Hardhi, jamu yaitu salah sesuatu obat tradisional yg resepnya telah diwariskan turun-temurun. Manfaat jamu juga tak terbatas cuma sesuatu aspek pencegahan atau pengobatan, namun holistik atau luas.

dr Hardhi menyebut jamu mampu bersifat sebagai pencegahan penyakit karena mengandung antioksidan dan bagus bagi sistem imun. Jamu juga memiliki kandungan yg baik buat menjaga kebugaran tubuh sekaligus efek pengobatan atau terapi.

“Jamu itu harus utuh, tak mampu dipecah-pecah. Seperti temulawak, itu kan mampu dicampur dengan jahe merah, kunyit, lemon atau madu sehingga milik manfaat masing-masing,” tambah dokter yg juga praktik di RSPAD Gatot Subroto ini.

Di sisi lain, pengembangan obat fitofarmaka juga tak boleh dilupakan. Temulawak, kunyit hingga jahe merah mampu memiliki manfaat yg lebih besar seandainya kandungan zat aktif atau ekstraknya dijadikan sesuatu dan dikemas menjadi obat.

“Temulawak misalnya milik manfaat buat mencegah penyumbatan pembuluh darah di jantung. Tapi manfaat ini baru mampu didapat seandainya ekstraknya diolah menjadi obat fitofarmaka,” tandasnya lagi.

Oleh karena itu edukasi dan sosialisasi soal manfaat obat herba harus terus dilakukan, bukan cuma oleh dokter namun juga oleh Kementerian Kesehatan selaku regulator, tenaga kesehatan dan juga pelaku industri. Dengan edukasi dan sosialisasi yg baik, masyarakat juga mulai lebih yakin dengan obat herba.

Baca juga: Diakui Khasiatnya, Jamu Diusahakan Bisa Di-cover BPJS(mrs/up)
Sumber: http://health.detik.com
Terima kasih anda Telah Membaca Berita Tentang Dua Jalur Pengembangan Obat Herba di Indonesia Silahkan Share Berita Ini Jika Memberi Manfaaat

Kata Kunci Banyak Di Cari

waptrick bahan bahan membuat obat bius,apa saja untuk membikin wedang bajunya,
Loading...
loading...