Cerita Panglima TNI Soal Patriotisme Indonesia, Singapura, Dan Malaysia

Posted on
loading...

Depok – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyatakan bahwa kalimat ‘merdeka atau mati’ tidak berlaku di negara Malaysia dan Singapura. Dia menyampaikan bahwa para pemuda dari beberapa negara tersebut takut mati.

“Maka begitu pemudanya bersumpah sesuatu bangsa sesuatu tanah air sesuatu bahasa, ada energi sosial yg dikembangkan, ‘Merdeka atau mati’. Kata-kata merdeka atau mati tak mampu di Malaysia, di Singapura, karena mereka takut mati. Orang Indonesia siapapun dia pasti mengalir darah patriot, pasti,” ucap Gatot ketika memberi kuliah umum di Balai Sidang UI, Depok, Jawa Barat, Rabu (16/11/2016).

Gatot mengatakan perjuangan Indonesia selama lebih dari 300 tahun melawan penjajah diawali dari pemuda. Gatot juga menilai para pemuda ketika itu menanggalkan ego kedaerahannya masing-masing ketika mengikrarkan sumpah pemuda.

“Dilihat dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia 300 tahunan, diawali oleh seorang pemuda, dokter Soetomo yg mendirikan Budi Oetomo, dan setelah 20 tahun yg disatukan pemudanya. Sumpah pemuda, sesuatu bangsa, sesuatu tanah air, sesuatu bahasa, tak melihat itu Jong Java, Jong Celebes, tidak,” beber Gatot.

Bahasa Indonesia disebut Gatot tak diambil dari sesuatu suku mayoritas saja. Namun, hal tersebut diambil dari Gurindam duabelas ciptaan Raja Ali Haji Satu.

“Bahasa Indonesia bukan diambil dari bahasa Jawa yg banyak penduduknya, bukan, tetapi dari Gurindam 12. Itulah sebenarnya lahirnya Bhinneka Tunggal Ika,” tegasnya.

Gatot juga menyampaikan dirinya berani bersayembara buat mencari suku yg tidak memiliki tarian perang bahkan senjata. Dia mengiming-imingi hadiah sebesar Rp 50 juta untuk siapaun yg menemukannya.

“Sekarang aku bersayembara mengapa disebut patriot, carikan aku suku yg tak ada tarian perangnya. Satu suku saja, aku kasih hadiah Rp 50 juta kalau ada. Senjata juga. Carikan suku yg tak ada senjata perangnya, kalau ada Rp 50 juta juga,” ucap Gatot.

“Orang-orang yg patriot itu, dia tak usah disuruh kalau lihat ada orang lemah, kewajibannya membantu,” sambungnya.

Tak cuma itu, Gatot menyampaikan bahwa kalimat ‘gotong-royong’ tidak dimiliki oleh negara lain. Gatot memaparkan bahwa peran pemuda begitu strategis dalam pembangunan bangsa.

“Ketiga, carikan selain bahasa Indonesia “gotong-royong”, bahasa lainnya dari bahasa manapun seperti Inggris, Arab, Italia, tak ada. Makanya dirumuskanlah merdeka atau mati, karena pemuda bergotong royong. Itulah maknanya, betapa strategisnya pemuda,” papar Gatot.

Gatot juga mengajak kepada segala pemuda buat mewujudkan bahwa Indonesia sebagai bangsa pemenang. “Maka aku mengambil judul mari kalian berjuang dan bergotong royong mewujudkan bangsa Indonesia sebagai bangsa pemenang!” serunya.
(dkp/dnu)

$(document).ready(function(){ polong.create({ group: 106, appId : 3, target:’bx_polong’ }); });

Sumber: http://news.detik.com
Terima kasih anda Telah Membaca Berita Tentang Cerita Panglima TNI Soal Patriotisme Indonesia, Singapura, dan Malaysia Silahkan Share Berita Ini Jika Memberi Manfaaat

Kata Kunci Banyak Di Cari

Google carikan hewan terlucu di dunia,
Loading...
loading...