Kontrak Pembelian Sukhoi Su-35 Bisa Terkendala ToT Dan Produksi Bersama

Posted on
loading...

Jakarta (Akulagi.com) – Kepastian Sukhoi Su-35 mulai hadir di hanggar TNI AU menggantikan F-5E/F Tiger II masih belum terjadi. Laman rbth.indonesia, Jumat, menyatakan, negosiasi harga dan transfer teknologi mampu menjadi faktor penghalang keputusan pembelian pesawat tempur Sukhoi Su-35.

Gelaran industri pertahanan Indo Defence 2016 mulai menjadi arena baru penawaran pesawat tempur pengganti F-5E/F Tiger II dari Skuadron Udara 14 TNI AU. Kompetisi antara JAS-39 Gripen dari Saab (Swedia), Eurofighter Typhoon (Airbus Military), dan Sukhoi Su-35 (Rosoboronexport, Rusia), mulai dibuka kembali. 

Semula gencar disebut-sebut bahwa Sukhoi Su-35 mulai menjadi pengganti F-5E/F Tiger II itu dan kepastian kontrak pembelian mulai dilaksanakan pada paruh kedua 2016 ini. 

Namun, harga yg ditawarkan dan skema serta macam transfer teknologi yg diberikan Rusia buat membangun bersama pesawat tempur itu di Indonesia menjadi hal yg masih mengganjal. 

Karena itulah Indonesia kemudian mengundang beberapa kontestan yang lain bagi mengirim proposal resmi mereka dalam program penggantian F-5E/F Tiger II ini. 

Laman www.defenseworld.net, Selasa (27/10), melaporkan, pemerintah Indonesia ketika ini menegaskan cuma membeli benda dan peralatan perang dari luar negeri seandainya ada transfer teknologi dan produksi bersama. 

Sumber Rusia yg dikutip pada Singapore Air Show 2016 lalu, menyatakan, jumlah unit Sukhoi Su-35 yg mulai dibeli Indonesia masih sangat sedikit buat memungkinkan mereka memberi kedua hal itu, merupakan transfer teknologi dan produksi bersama. 

Indonesia berencana membeli cuma delapan atau paling banyak 12 unit Sukhoi Su-35. 

Dibandingkan dengan pesaingnya, Saab pada Indo Defence 2016 kali ini mulai membawa simulator JAS39 Gripen ke Jakarta. 

Direktur kampanye JAS39 Gripen, Magnus Hagman, menyatakan, biaya operasional JAS39 Gripen cuma 4.700 dolar Amerika Serikat alias cuma 10 persen ketimbang biaya operasional Sukhoi Su-35. 

Faktor pembiayaan pasca pembelian (perawatan dan operasional) sangat krusial bagi jangka menengah dan panjang. Pula pada pola dan prioritas operasionalisasi pesawat tempur. 

Sejak tahun lalu, Saab sudah menegaskan komitmen mereka bagi memberi transfer teknologi kepada Indonesia dalam skala yg menguntungkan kedua belah pihak. Brazil sudah menempuh cara ini, seiring kontrak pasti pembelian 36 unit JAS39 Gripen NG, yg hanggar produksinya sudah dibangun di Brazil. 

Selain tawaran transfer teknologi, Saab juga menawarkan produksi bersama JAS39 Gripen dan pelatihan untuk ahli aeronautika Indonesia dalam mengintegrasikan sistem-sistem dalam pesawat tempur. 

Hal ini diharapkan mampu berperan besar dalam program pembuatan pesawat terbang tempur buatan Indonesia, IFX. 

Walau berukuran paling mungil dan bermesin tunggal —Sukhoi Su-35 dan Eurofighter Typhoon berukuran besar dan bermesin ganda— JAS39 Gripen telah diintegrasikan dengan peluru kendali udara ke permukaan RBS 15 bagi menghajar target di darat dan permukaan laut. 

Ditambah dengan radar AESA maka daya gentar dan kemampuannya diyakini semakin meningkat. Sukhoi Su-35 mengembangkan radar pasif, PESA. 

Editor: Ruslan Burhani

COPYRIGHT © ANTARA 2016

Sumber: http://www.antaranews.com
Terima Kasih Anda Telah Membaca Berita Di Website Akulagi.com, Berita Yang Anda Baca Tentang Kontrak pembelian Sukhoi Su-35 bisa terkendala ToT dan produksi bersama

Kata Kunci Banyak Di Cari

cristie teiger miss v tanpa sensor,tablet tiger c3100,tab tiger c3100,crissy taigen ama no sensor,tiger c3100,biaya ahmad dhani school of rock magelang,perhitungan produksi nikel,kerajinan tangan listrik seri dan paralel,cerpen cewe canti nanseksi yg nikah dng ceo dingin,andi nata neno warisman,
Loading...
loading...