Tak Perlu Pakai Kekerasan, Yuk Disiplinkan Anak Dengan Cara Yang Positif

Posted on
loading...

Jakarta, Mengajarkan anak disiplin tidak perlu memakai kekerasan. Sebab, Ayah dan Bunda mampu mengajari si kecil disiplin dengan cara yg positif.

Psikolog anak dari Tiga Generasi, Mayang Gita Mardian MPsi, Psikolog, menyampaikan bahwa disiplin positif intinya mengajarkan anak bagi berperilaku dengan tetap mendukung hak-hak anak bagi mampu berkembang dengan baik, tanpa kekerasan, dan menghargai anak sebagai pembelajar atau learner.

Nah, ada dua hal utama dalam positif disiplin yakni memberi kasih sayang, memberi batasan, dan merespons perilaku anak. Dijelaskan Mayang, memberi kasih sayang merupakan orang tua tetap mencintai anak apapun yg dikerjakan anak.

“Kemudian, orang tua mau mendengarkan anak dan menempatkan diri di posisi anak,” kata Mayang ketika berbincang dengan detikHealth baru-baru ini.

Kemudian, memberi batasan di mana orang tua memberi batas mana hal yg boleh dikerjakan dan mana yg tak boleh dikerjakan oleh anak. Diibaratkan Mayang, orang tua seperti membangun sebuah pagar buat buah hatinya.

Selanjutnya, dalam positif disiplin orang tua merespons perilaku anak, bukan reaksi instan.
Reaksi misalnya saat anak berteriak, orang tua tanpa sadar juga berteriak. Dikatakan Mayang, seandainya seperti itu anak tak belajar cara bagi tak berteriak.

“Lakukan respons sadar di mana misal saat anak teriak, ayah atau ibu mampu lebih tenang namun tetap tegas pada perilaku anak,” tambah Mayang.

Wanita yg juga praktik di Klinik Petak Pintar, Mampang ini menekankan orang tua perlu mengontrol dirinya sendiri lebih dulu, kemudian baru memberi tahu ke anak apa hal yg keliru dan bagaimana harusnya bersikap. Mayang mengibaratkan orang tua harus memiliki ‘sumbu’ yg lebih panjang.

Baca juga: Cara Pikir Anak: Kabur= Tidak Lagi Dimarahi

“Maksudnya perlu memperpanjang kesabaran dan penuh kesadaran sebelum bertindak merespons perilaku anak. Ingat bahwa anak-anak banyak belajar salah satunya dari apa yg mereka lihat. Anak-anak peniru yg ulung,” tutur Mayang.

Dalam mendisiplinkan anak, ketegasan selama tak menggunakan kekerasan tetap diperlukan. Termasuk ketegasan di mana saat anak melanggar aturan, maka ia mendapat hukuman yg bukan yaitu hukuman fisik, tapi konsekuensi.

Nah, konsekuensi mampu berbentuk natural maupun logika. Konsekuensi natural contohnya anak telah dilarang makan permen tetapi tetap bandel dan kemudian giginya sakit. Sehingga, memang itu konsekuensi yg harus ditanggung anak dan orang tua harus memberi tahu anak soal hal itu. Namun, anak tetap diobati ya.

Lalu, konsekuensi logika misalnya anak mencoret-coret tembok maka harus ia yg membersihkan karena dialah yg berbuat. Menurut Mayang, hukuman seperti ini membuat anak belajar apa yg dikerjakan pasti ada konsekuensinya.

“Perlu dipahami bahwa hal-hal di atas utama buat dikerjakan secara konsisten. Sama seperti pohon, tak tumbuh dalam semalam. Diperlukan konsistensi dan ketelatenan. Dengan hal-hal seperti itu anak belajar banyak hal, termasuk kontrol diri dan belajar menyelesaikan masalah,” pungkas Mayang.

Baca juga: Telantarkan Anak, Ibu Ini Dihukum Tak Boleh Hamil Sampai 2025

(rdn/vit)
Sumber: http://health.detik.com
Terima Kasih Anda Telah Membaca Berita Di Website Akulagi.com, Berita Yang Anda Baca Tentang Tak Perlu Pakai Kekerasan, Yuk Disiplinkan Anak dengan Cara yang Positif

Kata Kunci Banyak Di Cari

bokep gay,komik hentai tante,komik ngentot mama,susu BH SD,http://akulagi com/Berita-foto-cara-membuat-anak-dengan-pacar-beserta-gambar-nya,http://akulagi com/Berita-cara-membuat-anak-di-kamar-tidur-40-cara-lebih,anak prabowo meninggal,poto cara membuat anak,bokep gay indo,Cersek anak sd,
Loading...
loading...