Panduan Alquran untuk Memilih Pemimpin

Posted on
loading...

akulagi.com – Masihlah ada kesangsian dari sebagian kelompok umat Islam untuk memedomani panduan Tuhan dalam pilih pemimpin. Sebagian kelompok menyebutkan Alquran bebas tafsir hingga kata auliya dalam surah al-Maidah ayat 51 bukanlah bermakna pemimpin.

Beberapa yang lain pilih menaruh ayat itu didalam almari, lantaran terasa tidak cocok dengan demokrasi moderen saat saat ini. Lalu, bagaimana Alquran memandu Muslim untuk pilih pemimpin?

QS al-Maidah ayat 51 diisi tips untuk pilih auliya. Ayat itu berbunyi, ” Hai beberapa orang yang beriman, jangan sampai anda mengambil beberapa orang Yahudi serta Nasrani jadi wali-wali (mu) ; sebahagian mereka yaitu wali untuk sebahagian yang lain. Siapa saja diantara anda mengambil mereka jadi wali, jadi sebenarnya orang itu termasuk juga kelompok mereka. Sebenarnya Allah tak berikan panduan pada beberapa orang yang zalim. ” (QS al-Maidah : 51).

Sesungguhnya, tips seirama ada didalam ayat-ayat lain yang bertebaran dalam Alquran. Pada surah Ali Imran ayat 28 umpamanya, yang juga melarang orang mukmin mengambil wali dari orang kafir. ” Jangan sampai beberapa orang mukmin mengambil beberapa orang kafir jadi wali dengan meninggalkan beberapa orang mukmin. Siapa saja berbuat sekian, pasti lepaslah ia dari pertolongan Allah, terkecuali lantaran (siasat) pelihara diri dari suatu hal yang ditakuti dari mereka. ”

Terkecuali ayat itu, sebagian ayat lain yang seirama ada pada surah an-Nisa ayat 144, al-Maidah ayat 57, sampai at-Taubah ayat 23. Umumnya ayat ini juga memakai bhs yang sama, yaitu auliya. Beberapa besar ulama mengartikan auliya sebagai pemimpin.

Dalam info persnya pada 11 Oktober 2016, Majelis Ulama Indonesia (MUI) bikin lima pernyataan sikap keagamaan serta lima referensi berkaitan masalah penistaan agama itu. Dalam siaran pers itu, MUI menafsirkan kalau kata auliya adalah pemimpin.

” Alquran surah al-Maidah ayat 51 dengan cara eksplisit diisi larangan jadikan Yahudi serta Nasrani sebagai pemimpin. Ayat ini jadi satu diantara dalil larangan jadikan non-Muslim sebagai pemimpin.

Tafsir Al Misbah karangan Prof Quraish Shihab menerangkan, arti bhs dari kata auliya. Kata ini yaitu bentuk jamak dari waliy yang berarti dekat. Dari arti ini, berkembang bebrapa arti baru seperti pendukung, pembela, pelindung, yang menyukai, lebih paling utama, dan sebagainya.

Quraish Shihab juga dalam soal ini tak mengecualikan pemimpin sebagai arti dari waliy. ” Demikian pula pemimpin lantaran dia semestinya dekat pada yang di pimpinnya. Sekian dekatnya hingga dia yang pertama mendengar panggilan bahkan juga keluhan serta bisikan siapa yang di pimpinnya, serta lantaran kedekatannya itu dia juga yang pertama datang membantunya. ”

Quraish juga menukil surah al-Mumtahanah ayat 9 untuk menerangkan lebih jauh mengenai tafsir ayat 51. ” Hai beberapa orang beriman, jangan sampai anda jadikan musuh-Ku serta musuh anda sebagai auliya, anda mengemukakan pada mereka (berita-berita Nabi Muhammad) lantaran rasa cinta kasih. Walau sebenarnya, sebenarnya mereka sudah ingkar pada kebenaran yang datang padamu, mereka mengusir Rasul serta (mengusir) anda lantaran anda beriman pada Allah, Tuhanmu. ”

Dalam ayat ini, Quraish memaknai auliya sebagai pemimpin. Dia mengatakan, larangan jadikan non-Muslim sebagai auliya dikemukakan dengan demikian pengukuhan, yaitu larangan tegas yang menyebutkan jangan sampai anda jadikan beberapa orang Yahudi serta Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin. Ke-2, penegasan kalau beberapa mereka yaitu pemimpin untuk beberapa yang lain. Paling akhir, ancaman untuk mereka yang mengangkat sebagai pemimpin.

Walau sekian, Quraish Shihab memiliki pendapat, larangan itu tak mutlak pada semuanya auliya yang dimaknai sebagai ‘dekat’. ” Larangan itu tidaklah mutlak hingga meliputi semua arti yang dikandung kata auliya, ” catat dia.

Dia juga menukil pendapat Muhammad Sayyid Thanthawi yang menyampaikan, non-Muslim dapat dibagi jadi tiga grup. Pertama, mereka yang tinggal berbarengan golongan Muslim serta hidup damai berbarengan mereka. Tak juga lakukan aktivitas untuk kebutuhan melawan Islam. Ini sesuai sama surah al-Mumtahanah ayat 8.

” Allah tidak ada melarang anda untuk berbuat baik/memberi beberapa dari harta anda serta berlaku adil pada beberapa orang yang tidak ada memerangimu lantaran agama serta tak mengusir anda dari negerimu. ”

Ke-2, grup yang memerangi atau merugikan golongan Muslimin dengan beragam langkah. Dengan mereka, tak bisa ada hubungan jalinan serasi serta tak juga bisa didekati.

Ketiga, grup yg tidak dengan cara terang-terangan memusuhi golongan Muslimin, namun diketemukan pada mereka demikian tanda yang tunjukkan kalau mereka tak bersimpati pada golongan Muslimin, namun mereka bersimpati pada musuh-musuh Islam. Pada mereka, Allah memerintahkan golongan beriman berlaku hati-hati.

Quraish Shihab juga meneruskan kalau surah al-Maidah ayat 51 mempunyai ayat pendukung yang lain, yaitu ayat 55 serta 57. Dalam ayat 55 diterangkan kalau ” Sebenarnya wali anda hanya Allah, Rasul-Nya, serta beberapa orang beriman yang membangun shalat serta menunaikan zakat seraya mereka rukuk. Serta siapa saja mengambil Allah, Rasul-Nya, serta beberapa orang beriman jadi wali, jadi sebenarnya grup pengikut Allah tersebut pemenangnya. ”

Sesaat, ayat 57 sangat cocok bila dikontekskan dalam masalah penistaan agama di Kepulauan Seribu. Ayat itu berbunyi. ” Hai beberapa orang beriman, jangan sampai anda jadikan auliya, beberapa orang yang bikin agama anda bahan ejekan serta permainan. (Yakni) Diantara beberapa orang yang sudah di beri kitab sebelumnya anda, serta beberapa orang kafir. ”

Guru besar Sosiologi Agama Kampus Islam Negeri Sunan Ampel, Prof Muhammad Baharun, menerangkan, seseorang Muslim harus jadikan agama sebagai landasan pilih pemimpin pada masa demokrasi sekarang ini. Tidak cuma ditata dalam Alquran, Baharun menerangkan, hal itu sesuai sama Pancasila, terutama sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.

Baca Juga: Hidayat Nur Wahid Ingatkan Ahok dan Cagub lainnya Agar Tak SARA

” Nilai-nilai Pancasila cocok dengan agama serta tak bertentangan. Jadi, wajarlah memprioritaskan nilai-nilai agama lebih dulu, ” kata Baharun waktu terlibat perbincangan dengan Republika, Rabu (12/10).

Menurutnya, Muslim mesti bertakwa pada Allah SWT serta mempunyai konsekwensi untuk tunduk pada ajaran didalam kitab sucinya. Arti takwa sendiri, kata dia, yaitu mesti melakukan perintah Allah SWT serta menjauhi larangannya.

Ketua Komisi Hukum serta Perundang-undangan MUI ini menyanggah bila mengemukakan ajaran Alquran mengenai kepemimpinan, termasuk juga kelompok suku, antargolongan, ras, serta agama (Sara). Menurutnya, begitu lumrah bila seseorang Muslim mensupport Muslim yang lain untuk jadi pemimpin.

Demikian juga bila orang memberi suaranya atas basic kesukuan serta kelompok. ” Yg tidak bisa itu dipertentangkan. Jadikan alat untuk mengejek kelompok, ” tuturnya.

Karenanya, Baharun juga mengajak umat Islam untuk kembali pada agama serta kitab sucinya. Dia mengharapkan, masalah sangkaan penistaan agama di Kepulauan Seribu bisa jadi momentum umat Islam untuk bangkit serta mendekatkan diri pada agama.

” Janganlah kita dipengaruhi memahami liberal, ” tuturnya menerangkan.

Kata Kunci Banyak Di Cari

foto gaga muhammad,grup line 18,fitria yusuf agama,menghancurkan musuh dengan surat al ikhlas,ayat kursi untuk menghancurkan musuh,ayat al kursi quran 411,arti nama gafa,apa maksud dari unch di bigo live,cara mengetahui password grup bbm,biodata gaga muhammad lengkap,
Loading...
loading...